Sabtu, 06 Mei 2017

Santri Jangan Mau Kalah dengan Mbah Google


Keberadaan Pondok Pesantren di Indonesia sekarang ini sudah sangat banyak, perannya dalam berbangsa dan bernegara juga sangat diperhitungkan. Dari sekian banyak pesantren yang tersebar di Indonesia tentunya banyak menghasilkan alumni-alumni yang tidak sedikit pula. Ketika mereka sudah tiba di tengah-tengah masyarakat, tentunya juga di harapkan peran dan kepeduliannya terhadap urusan-urusan agama di daerahnya masing-masing, syukur-syukur tidak hanya dalam masalah agama.

Peran keagamaan santri harusnya maksimal, karena era ini santri menghadapi gelombang pergeseran nilai di tengah-tengah masyarakat akibat perkembangan teknologi. Santri harus hadir dan mampu memberikan pencerahan komprehensif kepada masyarakat tentang keagamaan.

Santri harus bisa menjaga masyarakat jangan sampai mereka teracuni oleh perkembangan teknologi dengan menanyakan masalah diniyah (keagamaan) melalui internet (baca; mbah google wa akhowatihi). Jangan sampai masyarakat lebih percaya kepada mbah google wa akhowatihi dari pada santri yang sanad keilmuannya jelas.

Sebenarnya tidak masalah sih mencari-cari pengalaman atau informasi keagamaan lewat dunia maya baik lewat search Google atau yang lainnya seperti lewat media-media sosial, hanyasaja perlu dikaji lagi tentang kebenaran suber-sumbernya.

Begitupun dalam menghadapi berita palsu (hoax) yang sering muncul di internet, khususnya di media sosial, Santri harus bisa berperan memberikan penjelasan untuk meluruskan pemahaman masyarakat dengan memberikan konten-konten penangkal yang sehat. Jangan malah ikut terombang ambing, itu santri kalah dan keinjik-injik namanya.

Untuk itu santri harus terus tekun belajar dan menambah wawasan keagamaaan (meskipun sudah tidak di pesantren lagi) dari sumber-sumber yang valid, dari al-Qur’an, kitab-kitab Hadits dan kitab-kitab hasil ijtihad para ulama yang kredible dan diakui keilmuannya, juga diketahui dari mana dia belajar, karena agama harus di ambil dari orang-orang yang jelas keilmuannya. ”Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian”. [Muhammad ibn Sirin Diriwayatkan oleh Muslim].